Bisa Merusak Mesin, Modifikasi Knalpot Tak Bisa Asal-asalan

Article

AnekaWarta - Meskipun sudah ada larangan, ­penggunaan knal­pot bising masih banyak dilakukan sejumlah pemilik ­motor. ­Operasi yang dilakukan ­petugas seolah ­ti­dak membuat jera. Masih banyak ­ditemukan motor ­dengan knalpot ­bising di jalan raya.

Padahal, sering kali keberadaan motor dengan knalpot bising dikeluhkan pengguna kendaraan lainnya. Selain suaranya yang membuat tidak nyaman telinga, juga asap yang dihasilkan sangat mengganggu penciuman.

Pengaplikasian knalpot racing di dunia balap sudah biasa. Akan tetapi, banyak pula yang mengaplikasikan knalpot racing pada tung­gangannya meski untuk berkendara sehari-hari.

Tentu ada alasan mereka menggunakannya untuk motor harian, di antaranya penampilan, performa, dan suara. Menurut pemilik bengkel Sinar Rejeki Modification, Ridwan Sandjaya, sebagian orang yang memilih knalpot racing karena mengubah penampilan motor secara keseluruhan lebih macho. Di pa­sar­an, ada banyak bentuk knalpot racing yang membuat motor harian tampil lebih sporty.

Jika orang yang mengaplikasikan knalpot racing dengan alasan mengubah penampilan saja, ada banyak pilihan knalpot racing berbekal peredam. Dengan demikian, motor harian le­bih menarik dengan knalpot racing, tetapi tidak berisik ketika digas.

Ridwan menjelaskan, untuk performa dan suara bergantung pada spesifikasi mesin dan kualitas knalpot racing. Semakin besar kapasitas mesin yang dibenamkan pada motor, makin besar suara yang dihasilkan.

"Ada kaitannya semakin besar cc. Contoh, 2 silinder, 4 silinder, dan 6 silinder itu menghasilkan suara yang lebih besar," ucap Ridwan.

Meskipun demikian, Ridwan meng­ingatkan, knalpot racing pada motor harian tidak terlalu signifikan mendongkrak performa jika bagian lain pada mesin tidak ditingkatkan. Jika ha­nya mengejar kebisingan dengan memotong peredam (si­lencer) belakang hingga menyisakan leher knalpot, dipasti­kan bising enggak keruan. Performa dan penampilan juga tidak bagus.

Merusak mesin
Menurut dia, cara pakai pengguna motor yang berkendara de­ngan kasar juga bisa merusak mesin secara perlahan. Apa­la­gi jika perawatan mesin kurang diperhatikan dengan tidak ru­tin servis atau ganti oli dan lain-lain, motor akan lebih cepat rusak.

Untuk motor yang knalpotnya sudah dimodifikasi, kata Ridwan, bisa menambah nilai atau justru mengurangi harga jual. Hal itu bergantung pada kualitas knalpot yang dilihat dari ba­han, ukuran, dimensi, pengelasan, bentuk, dan lain-lain. Seba­iknya, pemilik kendaraan tetap menyimpan knalpot stan­darnya agar ketika motornya dijual lebih mudah.

Dia menyebutkan, penerapan knalpot racing kini tak hanya dimonopoli motor sport. Motor matik pun sudah banyak yang menggunakannya. Terlebih, motor matik mendominasi populasi roda dua di Indonesia sekitar 80%.

Sementara itu, Hidayat Prio alias Yayack dari Retrosyndicate Engineering and Kustom Painting yang berlokasi di Yogya­kar­ta, menyatakan, dasar dalam pembuatan exhaust ada perhitungannya, meliputi volume dari diameter dan panjang pipa yang akan dipakai. Akan tetapi, kebanyakan para builder mo­tor custom lebih banyak mengutamakan desain (bentuk) knal­pot agar sesuai dengan desain motor mereka. Namun, tidak sedikit juga builder yang perhatian dengan perhitungan teknikal.

Di motor custom, kata Yayack, untuk desibel atau suara ter­kadang dikesam­pingkan. Mereka lebih mengejar bentuk dan kepantasan, terkecuali di beberapa negara yang sangat ketat da­lam per­aturan lalu lintas, biasanya mereka memakai produk aftermarket yang sudah melewati uji tes emisi/polusi dan suara.

Fungsi vital
Knalpot racing pada motor balap punya fungsi vital. Di dunia balap, knalpot racing ikut memengaruhi performa pembalap, bahkan bisa menentukan kemenangan jika mampu mengeluarkan tenaga mumpuni.

Menurut dia, untuk membuat exhaust yang ideal dan me­me­nuhi syarat dan ketentuan sangat panjang prosesnya. Mulai dari uji performa dengan mesin dynotest sampai dengan uji timbal dan suara.

Untuk tingkat kesulitan, Yayack menilai, lebih ke perhitung­an teknikal agar bisa sesuai dengan kebutuhan desain motor.

Untuk perhitungan yang benar, sektor exhaust bisa mendokrak performa kendaraan sampai 25-30%. Tentunya tetap diikuti be­berapa penyesuaian ­pengaturan di karburator, ignition, dan klep (timing exhaust).

Ridwan menambahkan, knalpot harian dan racing untuk di sirkuit pasti berbeda. Knalpot racing untuk motor balap ­kebi­singannya lebih keras karena dapat meningkatkan performa, bukan semata-mata penampilan.

Diperkirakan, penerapan knalpot ra­cing pada motor balap bisa mendongkrak performa hingga 20%. Pasalnya, gas buang knalpot racing lebih banyak keluar daripada yang tertahan di dalam. Saringan gas buang pada knalpot standar juga lebih kecil daripada yang racing.

Pemakaian knalpot ra­cing juga memiliki dampak besar pada motor balap. Semburan tenaga yang dikeluarkan oleh motor balap tersebut juga bisa bertambah. Peningkatan performa signifikan juga bergantung pada ubahan suku cadang lainnya yang saling berkaitan dan pengaturan mesin.

"Tenaga juga bertambah jika menggunakan knalpot racing. Maksimal kira-kira bisa 0,5-1 hp,” tutur Ridwan.

Sumber : Pikiran Rakyat

Headline